Jumat, 20 Februari 2009

patah

Aku membiarkan wajahku masih sepucat rembulan semalam, tidak peduli apa komentar teman-teman nanti. Cermin besar di dinding kamarku masih sangat jelas memperlihatkan mata bengkakku, dan aku tidak begitu peduli bahkan bila seluruh anggota rumah tahu. Aku hanya mengoleskan bedak dengan ketebalan seperti biasanya, hanya agak teliti di sekitar mata, agar mengurangi bengkaknya meski hanya sedikit. Lalu ku pasang kacamata minus 3 ku, lumayan..kalau tanpa memandangku dengan berlama-lama di daerah mata, pasti tak tampak bilur-bilur sembab sisa semalam.
Aku masih termangu tak percaya, tadi pagi dengan sembunyi-sembunyi ku lirikkan pandanganku pada wajahnya, wajah yang semalam tadi masih menemani nyenyak tidurku.
Aku masih ingat dan masih sangat ingat rentetan semalam..
"Tadi.." hanya sepatah kata itu jawaban dari pertanyaan yang harus berulang kali kukatakan,
"terakhir kapan?" itu adalah pertanyaannya, sedikitnya 5 kali aku mengatakan hal yang sama.
Ada yang berderak, tidak dahsyat memang tapi cukup untuk meruntuhkan dinding tebal kebanggaanku padanya. Mungkin sekitar 5 detik kemudian mataku mulai berkaca-kaca, aku tahu salah satu hal yang membuatnya panik adalah saat melihatku seperti itu. Tapi aku bahkan tak tahu dan tak ingin tahu apa reaksinya atas reaksiku.
Ada perassan tak percaya, dan berharap itu hanya mimpi. Tapi aku justru sedang sibuk menenangkan perasan dan mengatur pola napasku agar tak tersengal menahan isak yang dengan sekuat tenaga kubendung.
Rayuannya, beserta segala permohonan maafnya tak mengusik hatiku yang tiba-tiba sunyi. Sunyi karena kesadaranku pada pilihan mana yang harus kupilih.
Marahku hanya segunung telungkupan tanganku, bahkan mungkin kurang dari itu.
Dengan tatapan kosong kutatap mata itu, ada pedih yang tiba-tiba menyadarkanku ini hanya ujian kecil atas kualifikasiku.

Jumat, 19 Desember 2008

istana dimensi di beranda today

Apa yang telah kulakukan...??aku tidak percaya, aku bahkan mampu mebuat sajian termanis baginya. Aku menatap manik matanya, dan masih mendapatkan apa yang selama ini memang selalu ku dapatkan. Ada perasaan tak berdaya menerima uluran tangannya,
"..aku hanya ingin mengunjungi istana dimensi kita, sebentar..saja"
aku ??hanya mampu berharap sennyum yang kuusahakan sewajar mungkin akan menghapus keinginannya..
"kita duduk di beranda dulu yuk, lihat pagi nya masih begitu biru..dan anginnya terlalu semilir untuk dilewatkan"
Untunglah rumputnya masih hijau, hingga cukup pantas untuk kami duduki.
Di belakang, istana nya kokoh berdiri berselimut debu..
kami larut dalam bincang yang entah telah berapa lama kami tak lagi melakukannya bersama-sama...
Waktu datang dengan sopan, mengingatkan bahwa sang raja telah terlalu lama meninggalkan dunianya. Sosoknya lalu terbang bersama anak-anak waktu yang memperkenalkan diri sebagai detik...
Aku menggerutu...bahkan aku ternyata masih terlalu pintar memainkan sandiwara ini...

Kamis, 18 Desember 2008

Istana Dimensi

Aku telah lama tak menyambanginya lagi, entah enggan atau tak sempat. Mungkin karena aku sudah punya istana sendiri yang meski tak megah, tapi sungguh..itu sungguh lebih dari cukup buatku. Tak berkilau menyilaukan, tak transparan menggoreskan.
:)
Akhir-akhir ini aku mulai menerima kedatangan raja istana dimensiku, aku..mencoba menjadi seperti saat aku masih menjadi ratu dimensiku. Dan aku salah...karena aku ternyata tak lagi sama. Karena aku tak lagi bisa berpura-pura menjadi ratunya lagi.
Aku terus melukai kisi-kisi hatiku, bertahan menjaga agar raut itu tak berubah berona luka.
Ah....
aku pernah berpikiran untuk pergi saja..
hingga satu tatapan matanya menyapaku, meminta pengertian untuk jangan pernah pergi.
Aku meradang!! aku hanya mampu meradang sendiri atas ketak mampuanku mengalahkan rasa iba di hatiku.
Aku meradang !! aku hanya mampu meradang sendiri atas ketak tegasanku menampik kehadirannya.
Bahkan untuk sekedar mengusirnya pulang...??!! mana aku punyai kekuatan itu..
Dimensi..dimensi...
aku bahkan tak tahu masihkah rumput itu hijau seperti saat aku dengan senang hati merebahkan kepala sekedar berleha, menikmati bunga-bunga nya nan indah bermekaran menjadi pengobat luka cinta yang kadang membiru rindu saat sang raja tak juga pulang.
Dimensi..dimensi ..
masihkan kilau-kilau dinding kacamu mampu menampilkan keindahan didalamnya?
ah..aku bahkan lupa kapan terakhir membersishkan kacanya..mungkin sekarang sudah sangat berdebu..
Ah..dimensi..
aku hanya mampu menjadikanmu museum karena aku tak mungkin lagi mendiaminya. Istanaku jauh lebih penting untukku tata,
bukan..bukan..bukan berarti kau tak penting...jauh jauh lebih penting dari kenangan manapun, karena kau kenangan terindahku....

Selasa, 16 Desember 2008

Siang masih bersama rintik

Selasa 161208
14.58

Gak sengaja buka email yahoo yang entah berapa abad :D tidak pernah log in lagi..
wow !! ada 1345 inbox..
isinya friendster semua sih..
Emm....dan semuanya langsung ke delete, menuh-menuhin doank sih
gak penting !! :D

Ada folder draft, iseng ku klik...
satu judul menarik perhatianku :

Limited Edition Story
Wed,
July 18, 2007

semalam seseorang mengatakan sesuatu padaku:
"gw gak mau lihat lu kayak dulu lagi,
sedih,
padahal gw sangat berharap banyak saat
gw lihat binar-binar bahagia di mata lu
waktu bareng ama *d*.
Orang tidak akan mudah begitu saja melupakan lu,
percayalah,
orang akan mudah mencintai lu
tapi tidak akan mudah melupakan lu.
seperti halnya gw,
lu bagi gw sahabat yang bener-bener sahabat
sahabat terbaik yang pernah gw punya.
temen gw yang paling cantik heheh..
gw orang pertama yang akan mati-matian ngebela perasaan lu
kehormatan lu,
Gw ada dibelakang lu untuk ngedukung lu
dan gw ada di barisan paling depan untuk ngelindungi lu.
Hadapi jangan cuma pake perasan sensitif lo,
pikirkan semuanya udah berjalan lama
gw ada buat lo, rik"

Thanks friend,
simpan ini sebagai cerita
dari buku limited edition kehidupan gw.
thank's for your support..



Ah/......Leo Heruyono itu nama lengkapnya,
dia sahabat sewaktu SMA, kakak kelas sih
waktu itu aku kelas 1 dia kelas 3,
wah kalau waktu SMA dulu aku gak berani manggil LEO saja
tentu pakai embel-embel KAK...
Leo juga tentu mengingatkan pada seseorang,
aih...
hehehehe....just remember kok,

Sekarang?? dimana dia (Leo)ya...??!!
aih....udah merrit juga kali tuh singa -ompong- satu
wekekekek....
Le...lu dimana sih sekarang?

pagi dengan rintik

Selamat pagi jelang siang, pagi beranjak siang yang eemmm.....baru (juga) beranjak terang, setelah beberapa jam yang lalu terbungkus rintik-rintik yang mengundang selera untuk menarik lipatan selimut lagi. Emm...kalau tidak ingat hari ini adalah Selasa, dan hari ini bukan hari electrical shut down seperti minggu lalu :D pasti aku akan langsung berbalik begitu kubuka pintu rumah -yang masih terasa berat, apalagi dalam cuaca dingin pagi tadi- rintik2 hujan ngeprul menjadi penggoda jiwa tersendiri untuk berangan-angan, andai saja...hari ini hari libur.

Ah mudah-mudahan saja tidak turun hujannya, paling tidak sampai aku tiba di Lawang Gintung no 89 sana. Selanjutnya sih hujan deras pun tak masalah... :D karena pastinya keadaan akan lebih aman terkendali kalau hujan heheheh....

Tiba-tiba aku harus meringis karena mual yang tiba-tiba datang lagi tadi pagi,
"kenapa?" laki-laki yang sedang memakai sepatu cokelatnya itu melihat ekspresi wajahku.
"mual.." jawabku
"minum air putih atuh" advice nya bak seorang dokter :D
"udah.." jawabku pelan, karena si ete' duduk disebelahnya, aku berharap dia tidak mendengar pembicaraan kami.
Tentu saja harapanku sia-sia karena jarak kami terlalu dekat..
"kenapa?" tanyanya...
"mual" jawabku...
"ah.....jadi nih" ucapnya seraya tersenyum penuh arti...
"hehehheh...jadi, jadi berangkat kerja" jawabku mencoba plesetan,
"Berangkat ya Teh.." pamitku, seraya mencium punggung tangannya.

"sang, gerimisnya agak gede loh..." ujar lelaki yang ku peluk dari belakang itu, suaranya berbaur dengan suara mesin si supra 97.
"iya ya, males pake mantel padahal" jawabku, sambil menyeka titik air yang jatuh ke pipiku.
"Pake ya!" pintanya plus menasihati.
wwah...butiran gerimis memang lebih besar, daripada sewaktu baru berangkat dari rumah.
Wah..gerbang -belakang- stasiun sudah terlihat. Begitu 2 roda F4542UE itu berhenti berputar, aku bergegas turun dari joknya.
Cukup 1 menit sepertinya, aku sudah lengkap dengan seragam -yang kalau sahabatku bilang- astronot, berwarna biru kombinasi biru tua dan muda.
"Berangkat ya..."pamitku sembari menyodorkan tangan menjabat tangan besarnya dan kucium punggung tangannya.
"Hati-hati ya" pesannya saat mengecup keningku.

Dan..bernagkatlah aku dengan seragam astronot ku :D
Emmm....
butiran-butiran gerimispun perlahan mengecil dan tak tersisa saat gerbang biru itu bergeser begitu motorku melewati garis sensornya.