Kamis, 18 Desember 2008

Istana Dimensi

Aku telah lama tak menyambanginya lagi, entah enggan atau tak sempat. Mungkin karena aku sudah punya istana sendiri yang meski tak megah, tapi sungguh..itu sungguh lebih dari cukup buatku. Tak berkilau menyilaukan, tak transparan menggoreskan.
:)
Akhir-akhir ini aku mulai menerima kedatangan raja istana dimensiku, aku..mencoba menjadi seperti saat aku masih menjadi ratu dimensiku. Dan aku salah...karena aku ternyata tak lagi sama. Karena aku tak lagi bisa berpura-pura menjadi ratunya lagi.
Aku terus melukai kisi-kisi hatiku, bertahan menjaga agar raut itu tak berubah berona luka.
Ah....
aku pernah berpikiran untuk pergi saja..
hingga satu tatapan matanya menyapaku, meminta pengertian untuk jangan pernah pergi.
Aku meradang!! aku hanya mampu meradang sendiri atas ketak mampuanku mengalahkan rasa iba di hatiku.
Aku meradang !! aku hanya mampu meradang sendiri atas ketak tegasanku menampik kehadirannya.
Bahkan untuk sekedar mengusirnya pulang...??!! mana aku punyai kekuatan itu..
Dimensi..dimensi...
aku bahkan tak tahu masihkah rumput itu hijau seperti saat aku dengan senang hati merebahkan kepala sekedar berleha, menikmati bunga-bunga nya nan indah bermekaran menjadi pengobat luka cinta yang kadang membiru rindu saat sang raja tak juga pulang.
Dimensi..dimensi ..
masihkan kilau-kilau dinding kacamu mampu menampilkan keindahan didalamnya?
ah..aku bahkan lupa kapan terakhir membersishkan kacanya..mungkin sekarang sudah sangat berdebu..
Ah..dimensi..
aku hanya mampu menjadikanmu museum karena aku tak mungkin lagi mendiaminya. Istanaku jauh lebih penting untukku tata,
bukan..bukan..bukan berarti kau tak penting...jauh jauh lebih penting dari kenangan manapun, karena kau kenangan terindahku....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar