Aku membiarkan wajahku masih sepucat rembulan semalam, tidak peduli apa komentar teman-teman nanti. Cermin besar di dinding kamarku masih sangat jelas memperlihatkan mata bengkakku, dan aku tidak begitu peduli bahkan bila seluruh anggota rumah tahu. Aku hanya mengoleskan bedak dengan ketebalan seperti biasanya, hanya agak teliti di sekitar mata, agar mengurangi bengkaknya meski hanya sedikit. Lalu ku pasang kacamata minus 3 ku, lumayan..kalau tanpa memandangku dengan berlama-lama di daerah mata, pasti tak tampak bilur-bilur sembab sisa semalam.
Aku masih termangu tak percaya, tadi pagi dengan sembunyi-sembunyi ku lirikkan pandanganku pada wajahnya, wajah yang semalam tadi masih menemani nyenyak tidurku.
Aku masih ingat dan masih sangat ingat rentetan semalam..
"Tadi.." hanya sepatah kata itu jawaban dari pertanyaan yang harus berulang kali kukatakan,
"terakhir kapan?" itu adalah pertanyaannya, sedikitnya 5 kali aku mengatakan hal yang sama.
Ada yang berderak, tidak dahsyat memang tapi cukup untuk meruntuhkan dinding tebal kebanggaanku padanya. Mungkin sekitar 5 detik kemudian mataku mulai berkaca-kaca, aku tahu salah satu hal yang membuatnya panik adalah saat melihatku seperti itu. Tapi aku bahkan tak tahu dan tak ingin tahu apa reaksinya atas reaksiku.
Ada perassan tak percaya, dan berharap itu hanya mimpi. Tapi aku justru sedang sibuk menenangkan perasan dan mengatur pola napasku agar tak tersengal menahan isak yang dengan sekuat tenaga kubendung.
Rayuannya, beserta segala permohonan maafnya tak mengusik hatiku yang tiba-tiba sunyi. Sunyi karena kesadaranku pada pilihan mana yang harus kupilih.
Marahku hanya segunung telungkupan tanganku, bahkan mungkin kurang dari itu.
Dengan tatapan kosong kutatap mata itu, ada pedih yang tiba-tiba menyadarkanku ini hanya ujian kecil atas kualifikasiku.
Jumat, 20 Februari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar